Likes
CV. Riyutomo Group
posted a blog.
Ketua Umum KANNI Ruswan Efendi didampingi Ali Mas'ud Ketua KANNI Pimpinan Daerah Jawa Tengah Saat Memberikan Konferensi Pers Terhadap Anggotanya SW.
Grobogan 19 Maret 2023 - Sungguh memprihatinkan hanya berdasarkan informasi sepihak dan tanpa klarifikssi, Seorang Wartawan salah satu media online di Kabupaten Grobogan Jawa Tengah berinisial SW diberitakan oleh beberapa media online atas dugaan tindak pidana pemerasan terhadap perusahaan property bernama CV Riyutomo Group.
Hal itu menyebabkan Sekretaris Komite Advokasi Hukum Nasional Indonesia (KANNI) Pimpinan Daerah (Pimda) Jawa Tengah, Mur Rodhi prihatin dan angkat bicara sekaligus meminta kepada masyarakat untuk tidak gegabah menghakimi seseorang sebelum mendapatkan informasi yang jelas dan komprehensif.
Selain itu, Mur Rodhi juga meminta kepada pihak APH untuk lebih jernih dan bijak dalam menyikapi kejadian yang berkembang di masyarakat, agar tidak terjadi polemik bahkan kegaduhan kalangan bawah di Wilayah Kabupaten Grobogan. Hal ini berkaitan dalam penanganan kasus yang telah di alami Wartawan Grobogan berinisial SW, yang dituduh melakukan dugaan tindak pidana pemerasan dan kemudian dilakukan OTT di Star Cafe Jalan Gajah Mada Purwodadi oleh Jajaran Resmob Kepolisian Resor Grobogan.
“Kami harap semua bisa instrospeksi dan saling legowo, agar kssus tersebut tidak berkepanjangan. Sebab ada dugaan kesalahpahaman dan harus diluruskan semuanya,” harapnya didepan Wartawan, Sabtu (18/3/2023).
Ruswan Efendi Penasihat Hukum Saudara SW Yang Mengalami Masalah Hukum di Polres Grobogan.
Sebab dari kesalahpahaman itu bisa menjadi presedent buruk tutur Mur Rodhi. Karena sebenarnya berawal dari konsultasi hukum di kantor KANNI yang dilakukan oleh saudari Lestari Dwi Ningsih Warga Dusun Pucang Selatan RT 07/04 Desa Tambirejo Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan Jawa Tengah, terkait permasalahan pembelian sebidang tanah kavling yang berada di Wilayah Kelurahan Dayang Kecamatan Purwodadi Selaku Pengembang yakni CV. Riyutomo Group.
Selanjutnya, beberapa waktu kemudian ada inisiatif dari Saudara Jambul untuk menghubungi SW melalui pesan WhatsApp yang mengaku utusan dari CV Riyutomo Group meminta untuk ketemu dengan dalih ingin melanjutkan pembicaraan dan berkonsultasi hukum, kemudian orang yang mengaku bernama Jambul itu menentukan tempat pertemuannya di Star Cafe yang berada di Jalan Gajah Mada, Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Senin sore (13/3/2023), sekira pukul 17.30 WIB.
“Sebenarnya Saudara SW dimintai tolong oleh Jambul dalam hal konsultasi hukum terkait permasalahan yang dialami oleh seseorang yang bernama Wahyu Utomo Afrianto pemilik CV. Riyutomo Group,” ungkapnya.
Dikatakan pula oleh Mur Rodhi, sebelum ketemu Jambul sempat bertanya kepada SW terkait biaya konsultasi hukum tersebut dan setelah ada kesepakatan, maka disepakati waktu serta tempat pertemuannya. Selain itu Jambul juga sudah menyiapkan uangnya di dalam sebuah amplop.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Ali Mas’ud Ketua Pimpinan Daerah KANNI Jawa Tengah, yang saat itu menemani SW bertemu Saudara Jambul di Star Cafe dan dirinya sempat dibawa ke Polres Grobogan.
Bahwa informasi yang viral dan diberitakan beberapa media online itu tidak lengkap, sebab hanya sepihak dan tidak berimbang serta tidak sesuai kode etik jurnalistik serta terkesan sarat kepentingan, ucapnya.
Sementara Jambul sendiri mengaku, jika pertemuannya dengan SW itu memang murni hanya konsultasi hukum, terkait permasalahan yang dialami seseorang yang bernama Wahyu Utomo Afrianto pemilik CV. Riyutomo Group, namun tiba-tiba terjadi penggrebekan yang dilakukan oleh anggota Resmob Polres Grobogan yang dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim Polres Grobogan, tutur Ali Mas’ud.
“Waktu itu tujuannya untuk bertemu membicarakan konsultasi hukum yang sudah disampaikan awal, dibantu Saudara SW dengan mengajak Saudara Ali Mas’ud dari Komite Advokasi Hukum Nasional Indonesia (KANNI) Pimpinan Daerah Jawa Tengah,” jelasnya kepada Wartawan.
Sedangkan pihak KANNI menunjuk Kuasa Hukum Ruswan Efendi. AR, SH., MH dan kawan-kawan untuk melakukan pendampingan terhadap anggotanya yakni SW yang menghadapi proses hukum di Polres Grobogan maupun ditingkat Peradilan hingga kasusnya selesai, pungkasnya.
Sumber : https://www.lintasindonews.com/sungguh-ironis-berdasarkan-informasi-sepihak-wartawan-grobogan-ramai-diberitakan-dalam-dugaan-tindak-pidana-pemerasan/
Suka
Respon Anda
Suka
Respon Anda
CV. Riyutomo Group
posted a blog.
Grobogan 17b Maret 2023 - Wartawan bodrek alias abal-abal khususnya di Jawa Tengah saat ini bukan malah surut, melainkan makin banyak oknum-oknum itu merajalela juga meresahkan.
Pengungkapan kasus pemerasan yang melibatkan oknum wartawan bodrek bisa menjadi pembelajaran bagi seluruh warga masyarakat agar lebih jeli dan waspada, dan membedakan wartawan resmi berlegalitas dengan yang abal-abal.
Untuk itu masyarakat yang merasa dirugikan oleh perbuatan para oknum wartawan bodrek untuk tidak segan-segan melaporkannya ke kepolisian. Tujuannya dalam hal ini juga bisa mengembalikan nama baik rekan-rekan wartawan di mata masyarakat umum.
Diberitakan sebelumnya, SW (38) seorang oknum mengaku wartawan itu pria asal Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah dibekuk Satreskrim Polres Grobogan, usai memeras sebuah perusahaan properti di wilayah hukumnya. Tersangka diduga sering melakukan pemerasan dengan ancaman mengunggah permasalahan korbannya di YouTube.
Dalam aksinya tersangka mengancam akan menyebarluaskan ke media sosial permasalahan perusahaan korban, CV Riyutomo terkait jual beli tanah kapling. Tersangka menduga ada penyimpangan dalam transaksi CV Riyutomo dengan konsumen itu,
Dalam operasi tangkap tangan (OTT) polisi juga mendapati uang Rp 3 juta dari tangan pelaku. Uang itu didapat pelaku dengan cara menakut-nakuti korban agar persoalannya tak diberitakan.
Penangkapan ini melibatkan Kejaksaan Negeri Grobogan lantaran saat pemerasan tersangka mencatut nama pejabat Kejari di Kabupaten Grobogan. Pelaku yang menjadi tersangka pada akhirnya dijerat dengan pasal 368 ayat 1 subsider pasal 369 ayat 1 KUHP.
Sanggahan Swn di Jumpa Pers
Dalam konferensi pers di Mapolres Grobogan, Swn selain mengaku sebagai wartawan juga sebagai humas bagian dari Komite Advokasi Hukum Nasional Indonesia (Kanni).
Dalam kesempatan Swn juga mengaku apa yang dilakukannya saat berkomunikasi dengan pengusaha properti terkait kasus tersebut sebagai bagian dari kinerjanya. Disisi lain, Kanni merupakan tempat klien sebuah perusahaan properti mengkonsultasikan permasalahan yang dialami.
Dengan bersumber dari keterangan klien itulah dia bersama perwakilan Kanni berkomunikasi dengan perwakilan pihak perusahaan properti tersebut. Namun, saat diberi uang oleh pihak pengusaha properti, dia tidak mengakui uang tersebut dimaksudkan agar tidak ada pemberitaan terkait permasalahan antara pengusaha properti dan kliennya.
’’Saat ditawari berapa renteng (berapa juta, red), saya tidak menjawab. Saya tidak tahu (maksud pemberian uang dari perwakilan pengusaha),’’ ujar Swn kepada awak media.
Sementara itu, Kapolres Grobogan AKBP Dedy Anung Kurniawan juga menegaskan bahwa terkait pemberian uang tersebut dimaksudkan agar permasalahan perusahaan tersebut tidak diberitakan. Apalagi, dalam penemuan alat bukti sudah ada berita yang dibuat oleh Swn di hp nya.
’’Pemerasan yang dilakukan oleh pelaku oknum wartawan dengan modus menakut-nakuti korban, apabila tidak diberikan sejumlah uang, maka si korban akan diberitakan atau dipublikasikan,’’ terangnya.
Kapolres Grobogan Dedy pun juga menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat agar jangan ragu dan untuk berani melaporkan kepada aparat saat mengalami masalah yang serupa. Dengan begitu, praktek pemerasan di masyarakat dapat ditekan bahkan dihilangkan.
"Pelaku tertangkap tangan saat menerima uang pemerasan Rp 3 juta yang diserahkan korban. Kemudian dari hasil pemeriksaan penyidik, tersangka awalnya meminta korban uang Rp 10 juta, namun akhirnya hanya bisa diberikan Rp 3 juta," imbuhnya.
Terpisah, Kasi Intelijen Kejari Grobogan Frengki Wibowo juga menjelaskan terkait kasus itu bahwa dalam upaya pemerasan tersangka sempat sesumbar bisa mengkomunikasikan permasalahan CV Riyutomo dengan Kejari Grobogan.
Padahal pihak Kejari Grobogan sendiri selama ini juga merasa tidak pernah melakukan pengusutan permasalahan yang ada di CV Riyutomo ataupun perusahaan property tersebut.
"Soal kasus ini, saya sama sekali tidak mengenal tersangka tapi tersangka membawa-bawa nama saya. Lucunya tidak ada pemeriksaan kasus CV Riyutomo, kalau memediasikan permasalahan pembelian tanah kapling CV Riyutomo memang pernah, tapi sudah rampung," Bebernya.
Pihak Kejari Grobogan pun ikut mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi dari pihak- pihak yang mengaku dapat membantu menghubungkan atau menyelesaikan permasalahan di Kejaksaan terkait dengan adanya permasalahan hukum yang mungkin sedang dialami tanpa dasar dan bukti yang kuat.
"Kami mengimbau agar masyarakat mewaspadai modus dan praktik-praktik yang berujung pemerasan seperti ini," tandasnya.
Lontaran lugas juga disampaikan para tokoh dan aktifis senior media pecinta karya tulisan pena eka Soloraya dari belahan Kabupaten Sragen. Salah satunya Bambang Suripto menanggapi soal istilah Wartawan Bodrex bahwasanya dalam beraksi dilapangan hanya bermodal ID-Card Wartawan.
Bambang juga membeberkan, oknum wartawan bodrex, sebagian besar dari mereka seringkali justru tidak tahu menahu dalam kaidah kejurnalistikan. Adapula yang hanya mengaku wartawan sementara profesi aslinya lain hal dengan wartawan. Sehingga untuk menulis sebuah artikel sampai berita saja mereka tidak mengerti tata aturannya.
Anggota Tim Media Aliansi Indonesia eks Soloraya berwajah seram dan gendut inipun juga berbagi tips bagaimana cara mengatasi Wartawan Bodrex apabila ada pihak-pihak yang mau berkonsultasi atau terrongrong oleh oknum tersebut.
"Jika kantor ataupun institusi anda kedatangan seorang oknum wartawan bodrex, anda tidak perlu takut untuk memberinya pelajaran. Hal yang pertama dilakukan adalah dengan menelisik terlebih dahulu asal usul seorang wartawan tersebut. Jika nama perusahaannya sudah tidak jelas dan kita belum pernah mendengar nama tersebut, maka adakalanya kita cek terlebih dahulu di website resmi. Ini cara sederhana dulu," ungkapnya.
Ditambahkan Bambang, apabila saat ada indikasi bahwa wartawan tersebut adalah oknum wartawan bodrex, maka pastikan bahwa tidak memberikannya informasi. Tidak perlu takut untuk tidak melayani seorang wartawan gadungan seperti mereka. Jika mereka melakukan pemerasan dengan meminta sejumlah uang, pastikan tidak memberinya.
Namun jika oknum tersebut tetap memaksa untuk memberinya uang, maka bisa segera menghubungi kantor polisi setempat untuk segera ditindak. Tentunya sembari menunggu polisi datang, cobalah mengulur waktu dengan mengajaknya ngobrol seputar hal lain. Sebagai penguat bukti laporan, jangan lupa sejak mengetahui bahwa orang tersebut adalah oknum wartawan bodrex pastikan merekam sepanjang obrolan wawancaranya.
"Untuk membedakan mana yang wartawan profesional dengan mana yang bodrexan itu cukup mudah. Wartawan beneran tidak mungkin melakukan pemerasan beserta ancaman penayangan berita. Sedangkan wartawan resmi, mereka akan melakukan wawancara pada cakupan substansi kejurnalistikan dan tidak pula melakukan pemerasan uang," tukas dia.
Selama tidak melakukan pemerasan uang, siapapun wartawannya tidak masalah. Adapula beberapa orang yang memang memiliki kegemaran di bidang jurnalistik dengan membangun media pribadi atau juga beberapa institusi juga memiliki bagian team jurnalis tersendiri. Namun tentunya dengan tidak melakukan pemerasan atau tindakan yang melawan hukum dan bisa mencoreng nama baik profesi pers atau wartawan.
"Dengan anda berani untuk membuatnya jera, tentunya anda telah turut membantu memberantas adanya oknum yang memanfaatkan nama baik seorang wartawan atau pers." tambahnya.
Sumber : https://www.aliansinews.id/baca/id/ulah-oknum-wartawan-bodrek-meresahkan-di-kota-grobogan-pria-asal-geyer-terjaring-ott-usai-memeras-perusahaan-property-dalam-aksi
CV. Riyutomo Group
posted a blog.
Grobogan, 11 Maret 2023 - Berawal dari aduan lisan Lestari Dwiningsih warga Desa Tambirejo ke Komite Advokasi Hukum Nasional Indonesia atau KANNI pada sepekan lalu, persoalan jual beli tanah Kavling di kelurahan Danyang Kecamatan Purwodadi Kabupaten Grobogan kini mengembang menjadi persoalan yang berpotensi memenuhi unsur pidana penipuan. Dalam keterangannya Lestari telah membeli tanah kavling ke CV. RIYUTOMO GROUP pada ( 18 /07/ 2022) lalu. Dari harga tanah Kavling Rp. 130.000.000,00 Lestari memberikan uang muka Rp. 25.000.000,00 kemudian di tahapan selanjutnya Lestari membayar Rp. 70.000.000,00.
” Awal saya bayar 25 juta rupiah kemudian saya tambah lagi 70 juta rupiah ” Ucapnya.
Photo : Lestari saat konsultasi ke kantor KANNI
Lestari sempat di buat kaget setelah menyerahkan uang 70 juta rupiah ke CV. RIYUTOMO GROUP di lokasi tanah yang di belinya sudah terpasang plang bertuliskan ” Tanah ini di jual atas nama Santoso “. Hal itulah yang pada akhirnya Lestari timbul keraguan yang berbuntut pada penundaan pelunasan.
” Setelah saya bayar 70 juta rupiah saya berniat untuk melihat tanah yang saya beli, saya kaget setelah melihat ada plang tanah tersebut akan di jual atas nama pemilik Santoso, akhirnya yang tadinya berniat untuk segera tak lunasi ya akhirnya saya tunda dulu ” Jelasnya.
Atas penundaan pelunasan itulah mulai muncul persoalan, hingga akhirnya proses jual beli tanah Kavling tersebut di anggap batal meski sebelumya jual beli antara ke dua belah pihak di tuangkan dalam sebuah perjanjian yang di buat oleh salah satu notaris di kecamatan Godong.
Tak hanya di buatkan perjanjian oleh notaris, setelah kedua pihak sepakat untuk membatalkan jual beli, perjanjian ke dua pun kembali di buat. Dalam Perjanjian ke dua pihak CV. RIYUTOMO GROUP yaitu Wahyu Utomo Afrianto bersedia mengembalikan uang Lestari pada tanggal 06 maret 2023 dengan uang muka di potong 25 % , dan pihak Lestari pun tak merasa keberatan. Namun setelah waktu hingga lebih dari tanggal 06 maret 2023 , pihak CV. RIYUTOMO GROUP mengingkarinya hingga saat ini.
Saat di konfirmasi ke pihak CV RIYUTOMO GROUP, melalui Candra yang mengaku sebagai kuasa hukum dari Wahyu Utomo Afrianto menerangkan bahwa perjanjian yang di buat ke dua tersebut tidaklah berlaku lantaran perjanjian tersebut tidak di notaris kan.
” Apa yang ada dalam Perjanjian ke dua ini semua tidak berlaku, dalam jual beli ini tetap yang berlaku adalah Perjanjian yang pertama ” Terangnya. Jumat, ( 10/03/2023 )
Meski dalam Perjanjian pertama yang di anggap paling berlaku, namun dalam satu bendel berkas perjanjian jual beli tersebut tak di lengkapi dengan keterangan objek yang di jual belikan yang menyebutkan nama hak milik.
Hingga berita ini di terbitkan masih banyak pihak yang harus di konfirmasi demi keberimbangan berita ini
Sumber : https://hariansiber.com/benarkah-cv-riyutomo-group-lakukan-dugaan-penipuan-ke-pembeli-tanah-kavling/
People also like
1
Suka
Semarang
1
Suka
Kota Tegal
1
Suka
Semarang
1
Suka
Semarang
Page Admins
-
AdminFounder